Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nasionalisme. Tampilkan semua postingan

Jumat, 25 November 2016

25 November. Antara Basuki, Rush Money, Lilpaly



Setahun terakhir ini saya menekuni pekerjaan yang boleh dibilang mengasyikan lagi memberikan saya banyak pelajaran berharga. Tiada yang lebih menyenangkan daripada bermain, mengupdate dan menulis status di media sosial untuk kemudian mendapatkan uang dari situ. Yup, saya berprofesi sebagai content writer merangkap social media staff. Mungkin masih terdengar awam buat calon mertua ketika nanti saya ditanya bekerja di bidang apa, tapi percayalah banyak profesi aneh yang nggak pernah terbayangkan sebelumnya sedang menanti diujung sana untuk kamu yang bosan menjadi teller Bank atau staff accounting perusahaan.


Bekerja sebagai social media staff membuat saya kudu menyimak trend-trend sosial media terbaru untuk dipelajari dan jika memungkinkan diaplikasikan kedalam kampanye digital dari perusahaan tempat dimana saya bekerja. Maka dari itu setiap pagi saya rajin memantau Facebook dan juga Youtube. Karena setelah perlahan Twitter ditinggal oleh peminatnya, praktis dua platform itu sekarang yang paling ramai dijadikan lahan promosi, selain Instagram yang ramai-ramai “diperkosa” oleh akun-akun peninggi badan dan pembesar penis instan.


Memantau Facebook selama 8 jam sehari, lima hari seminggu membuat saya betul-betul hafal akan jenis postingan yang sedang naik daun di lini masa media sosial racikan seorang kafir Yahudi bernama Mark Zuckerberg ini. Sekitar dua bulan lalu berbagai macam variasi cerita kurang lucu dari tokoh rekaan bernama Mukidi benar-benar mendapat panggungnya. Mulai dari Mukidi yang melihat onta lah, bertemu orang Cina lah, Mukidi coli lah, hingga surat edaran resmi yang ditandatangani oleh Mukidi. Namun cerita Mukidi sedikit meredup sesaat setelah tokoh bernama Basuki (yang ini beneran bukan rekaan) gantian mencuri pentas. Konon (boleh dibalik) tokoh keturunan Tionghoa ini merebut hampir seluruh frekwensi perhatian massa pengguna Facebook.


Alkisah dimulai dari dipostingnya sebuah video singkat Basuki yang sedang memberi entah ceramah, himbauan, kampanye, atau kelas pengganti Ilmu Pengantar Politik di Kepulauan Seribu, Jakarta Utara.  Dalam video itu terlihat Basuki dengan rada dongkol mengucapkan kata-kata maut yang membawa masalah demikian besar bagi jabatannya dan bagi hubungan silaturahmi masyarakat Jakarta bahkan Indonesia. Terlepas dari perkara apakah kata-kata tersebut termasuk penistaan agama ataupun bukan, yang jelas penonton acara tersebut nampak anteng dan terkendali. Dan hampir tidak ada satu orangpun yang menyadari isi video tersebut secara lengkap.


Tetapi semua berubah saat negara api mulai menyerang. Seorang tokoh bernama Buni (nggak pakai Bugs) ikut mengunggah video tersebut beserta caption yang menurut pihak berwajib termasuk dari tindakan provokasi. Karena percayalah tidak ada satupun hater dari Basuki berminat menonton video si Basuki open mic di Kepulauan Seribu yang diposting oleh akun Pemda DKI Jakarta. Namun dengan caption yang menggugah, video dengan durasi yang nggak lebih panjang dari satu adegan tembak-tembakan di film Rambo 4 itu menjadi sangat click-able.


Alhasil bola salju yang menggelinding semakin besar atas peran serta netizen yang beriman, berpendidikan tinggi, berpenghasilan diatas UMR, punya akses internet, tetapi tidak diimbangi kecerdasan emosional yang mumpuni. Singkatnya kita sebut saja mereka kelas menengah ngehek. Suatu kelas yang tercipta dari tindakan represi sebuah rezim pemerintahan terhadap kebebasan berpendapat dan berpolitik masyarakat. Kelas menengah ngehek ini bak jamur yang tumbuh dimusim hujan. Mereka berkembang biak pesat seiring murah serta mudahnya akses internet menjangkau. Kehidupan yang nyaris mapan (berkat murahnya cicilan rumah dan mobil yang ditawarkan perusahaan leasing si raja riba nan haram pun dilarang agama), membuat sebagian besar kelas menengah ngehek ini merasa sebagai “pemenang” di ibukota karena punya banyak waktu untuk sekedar scrolling-scrolling kursor akun Facebook disela-sela jam kerja, sambil menunggu kereta atau Transjakarta, di dalam Taksi online, ataupun sambil menunggu si kecil pulang les balet.


Bola salju yang besar itu akhirnya bermuara kepada sebuah demonstrasi (sebagian menyebutnya Jihad Konstitusional, meskipun di Islam sendiri tidak ada satupun ajaran tentang demo, apalagi mengakui serta menjalanakan sebuah sistem Thagut demokrasi yang jauh dari khilafah) besar-besaran pada tanggal 4 November 2016 yang menyuarakan tuntutan sebagian kaum Muslimin yang ingin Basuki diproses secara hukum terkait dengan ucapannya di Pulau Seribu tempo hari. Diluar dari aksi rusuh beberapa oknum yang tertangkap kamera sedang mengacungkan bambu kepada aparat, harus diakui demonstrasi 411 ini berjalan baik dan terorganisir. Salut dengan beberapa ormas yang mampu meredam suasana panas yang bisa saja meletus menjadi kerusuhan masal.


Beberapa hari kemudian Basuki lantas dinaikan statusnya menjadi tersangka oleh pihak kepolisian. Tentunya ini membuat remuk hati para lelaki pemburu gadis diluar sana yang telah jatuh bangun Bekasi-Bintaro namun statusnya tidak jua naik menjadi pacar. Haruskah mereka juga melakukan demonstrasi di depan istana untuk sekedar diakui keberadaannya dan di tag namanya dalam sebuah postingan berisi lirik lagu Raisa “Could it be”.


Singkat cerita Basuki pun mendapat hukuman sosial yang sangat berat. Statusnya sebagai Gubernur non aktif dan Cagub dari partai dengan logo mirip Chicago Bulls ini menjadi serba salah. Hasrat menggebu-gebu dari pendukungnya harus bertentangan dengan para korban gusuran dan hater yang semakin sakit hati setelah peristiwa video penistaan tersebut. Tak cukup hanya disitu, musuh Basuki semakin mendesak dan menebar opini di sosial media tentang harusnya disegerakan penangkapan bagi si tersangka penista agama. Isyu tentang aksi demo susulan langsung menyebar luas untuk mempercepat langkah pihak berwajib memenjarakan Basuki.


Tapi tampaknya demonstrasi bukanlah langkah yang disetujui semua pihak yang merasa tersinggung atas penistaan agama yang dilakukan Basuki. Beberapa ormas keagamaan yang cukup besar di Indonesia telah menyatakan sikap untuk tidak lagi turun ke jalan menyuarakan pendapat dan menerima serta menghormati proses hukum yang sedang berlangsung. Mungkin itu pula yang menyebabkan lawan Basuki mulai mencari narasi lain untuk tetap menghangatkan lini masa sosial media. Ibarat satu pleton pasukan yang habis memenangkan sebuah pertempuran besar, semangat dan moral prajurit harus dijaga (bahkan dipompa terus) agar tidak kendor untuk terjun ke medan perang yang lebih menentukan. Macam-macam isyu lantas ditebar disegala penjuru dunia maya. Salah satu yang menurut saya paling spektakuler sekaligus musykil  adalah “Gerakan tarik uang massal untuk menciptakan Rush Money”.  Trik yang satu ini memang elegan betul. Jauh dari kesan proletar yang biasa melakukan long march penuh keringat bercampur sisa-sisa mijon disudut bibir para penuntut keadilan. Gerakan ini diklaim milik kelas menengah yang digenerelisasi sebagai kelas dengan kouta terbanyak di kota-kota besar Indonesia.


Untuk yang masih awam, singkatnya rush money adalah penarikan dana besar-besaran dari bank secara bersamaan dan mendadak. Tujuannya tentu saja menciptakan ketidakstabilan ekonomi yang sangat mungkin menyulut kerusuhan dan sukur-sukur menjatuhkan Presiden yang pake jaket bomber. Mungkin penggagas gerakan rush money ini adalah seorang tokoh yang mencoba nostalgia dengan peristiwa kerusuhan Mei 98 beberapa waktu silam. Masih terlintas dalam benak ketika bapak saya menarik semua uang keluarga kecil kami yang tidak seberapa dari sebuah bank swasta yang dimiliki oleh pengusaha Tionghoa lalu memindahkannya ke bank pemerintah yang katanya relatif lebih aman. Peristiwa tersebut terjadi menyusul tragedi kemanusian terbesar kedua setelah pembantaian komunis tahun 65-69. Ribuan warga keturunan Tionghoa harus menjadi tumbal mengiringi hancurnya sebuah orde kepemimpinan seorang Presiden legendaris Republik ini.


Sekilas ide rush money memang terdengar renyah. Dan benar adanya, isyu tersebut langsung dikunyah tanpa ampun oleh –lagi lagi- kelas menengah ngehek sebagai kaum yang mendominasi frekwensi lini masa dunia maya. Ancaman penarikan sejumlah uang secara beramai-ramai ini bahkan telah dibuat skema hitung-hitungannya. Jika kira-kira sebanyak 5 juta orang menarik 2 juta rupiah dari bank, maka bank akan kelimpungan mencari dana talangan untuk membayarkan uang nasabahnya. Saat itulah rush money terjadi, dan suasana menjadi kisruh. Kemudian berturut-turut kepercayaan terhadap perbankan menurun drastis, suku bunga anjlok, rupiah melemah, inflasi gila-gilaan, harga barang melonjak, AA Gatot keluar penjara, Dimas Kanjeng buka kursus gandain duit, Young Lex mendadak miskin, dan Coldplay beneran konser di alun-alun Nganjuk dengan artis pembuka Angel Lelga.


Gimana?? Eneg kan bayangin Coldplay harus nunggu di backstage sambil ngunyah panadol 4 biji langsung karena pusing ngeliat konser maha dahsyatnya dibuka oleh artis tanggung tapi punya tas mahal bingits yang mantan istrinya Chris Martin aja nggak punya. Makanya penjarain deh si Basuki kalo nggak mau ilustrasi peristiwa diatas bener-bener kejadian. Kira-kira begitulah ancaman dari segelintir orang yang merasa jika rush money adalah jalan keluar terbaik dari segala macam masalah.


Jujur saja, saya bukan orang yang gemar mengamati masalah ekonomi morat-marit bangsa ini. Saya yakin para pendahulu kita, para leluhur, jungkir balik pating pecotot membangun fondasi ekonomi negeri yang baru saja merdeka seumur jagung. Salah seorang founding father kita, Bung Hatta adalah seorang yang sangat ekonomis. Ya, saya ulang sekali lagi, dia adalah seorang yang sangat mencintai bidang ekonomi sekaligus penganut aliran ekonomis. Bagaimana tidak, untuk membeli sepasang sepatu Bally saja ia harus rela menabung dan pada akhirnya hanya menjadi angan karena keinginan tersebut tidak pernah terwujud hingga akhir hayatnya. Jangan coba-coba bandingkan pengorbanan Si Bung dengan pejabat ataupun pelaksana roda pemerintahan yang kita kenal sekarang. Apalagi sampai harus merobohkan sistem ekonomi yang sudah beliau rintis dengan darah juga air mata dan dibangun sedemikian rupa hingga detik ini hanya karena isyu rush money. Jadi buat saya isyu yang satu ini benar-benar menggelitik untuk cepat ditanggapi.


Saya pun kemudian mencoba mensimulasikan apa yang terjadi jika ajakan rush money tanggal 25 November benar-benar dilaksanakan. Tapi di sisi lain saya juga berkeyakinan bahwa satu-satunya yang bisa menggoncang perekonomian adalah pemilik perekonomian sendiri. Dalam arti si bankir itu sendiri, dan segelintir orang-orang tak bernama yang wajahnya tidak pernah muncul dalam daftar orang terkaya di majalah Forbes. Silahkan kamu googling jika tidak percaya, negara yang selama ini kita anggap sebagai Superpower saja seperti Amerika, Jepang, dan Perancis misalnya memiliki hutang yang sangat banyak pada bank dunia. Negara-negara tersebut bukanlah negara bodoh yang mayoritas penduduknya meributkan masalah moral serta menyebar broadcast message tentang obat yang membuat wanita mandul sehingga bebas digagahi. Mereka adalah sekumpulan orang-orang produktif yang ilmuwannya telah menemukan obat kanker, teori fisika kuantum dan mengetahui keberadaan Eddy Tansil yang buron sejak zaman orba.


Lalu jika rush money memang bisa dikaryakan untuk menumbangkan rezim yang korup ataupun tidak memihak rakyat, tentunya revolusi Perancis sudah terjadi tiga kali sejak zaman Louis XIV yang beken dengan semboyan “Negara adalah saya”. Atau sekalian saja kemarin orang Amerika berbondong-bondong ngambil duit via atm lima ribu dollar seorang supaya keadaan jadi kacau dan Donald Trump batal jadi Presiden. Tapi faktanya, memang lebih gampang menggalang otot di jalan sambil bawa spanduk teriak-teriak pake toa, dan sukur-sukur dapet nasi kotak ayam goreng tepung. Itu pula yang dilakukan oleh penduduk di beberapa negara bagian Amerika yang memihak pada Hillary Clinton. Tapi apa hasilnya?? Ya jadi bahan berita doang. Masuk tipi, siaran berita malem yang ditayangin habis serial The Walking Dead season 7.


Yang terjadi tetap saja segilintir penguasa dan oknum-oknum bankir dalang dibalik penyedia dana segar bagi negara sama sekali tidak tersentuh. “People Power” cuma semboyan basi yang terakhir kali diusung Musso saat memimpin pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948. Di zaman teknologi informasi ini        -dimana kelas menengah ngehek bisa saja kritis ngomongin teori ekonomi kerakyatan menggebu dan mengkritik pemerintah yang tidak pro rakyat miskin sambil ngopi cantik di Starbucks-, yang punya power itu bukan people, tapi money, Bos. Sekali lagi, money. Apanya yang mau di-rush kalo money kita aja setiap masuk tanggal 25 sebanyak 4 juta, langsung ditarik lagi 3 juta 900 ribu. Itu juga terpaksa disisain 100 ribu karena kebijakan bank harus menyisakan uang untuk administrasi.


Dan pada akhirnya memang itulah yang terjadi. Rush money cuma sekedar omong kosong alias lip service para elite-elite yang memang berniat menjaga semangat tetap berkobar di dada para prajurit pengawal kasus hukum Basuki. Ibarat satu kompi pasukan Amerika yang sukses merebut sebuah pangkalan udara kecil di pinggiran Guadalcanal pada perang Pasifik. Kemudian jendral-jendral di atas kapal perang sambil minum cocktail memerintahkan bagian humas untuk cetak selebaran perihal “Tempur abis-abisan” karena sebentar lagi perang bakalan kelar. Padahal faktanya perang masih jauh dari rampung dan si tentara yang kadung semangat antara napsu campur termotivasi menjadi garang dan trengginas menggilas semua musuh yang tampak. Kalaupun pun pada akhirnya para prajurit gagal dan tetap kalah, ya nggak masalah. At least para jendral jadi tahu batas  loyalitas serta kegilaan dari pasukan martirnya. Bahasa ilmiahnya studi kasus.


Hari ini tanggal 25 November saya menulis tulisan singkat ini sambil menunggu akankah rush money benar-benar terjadi dan menggoncangkan perekonomian sebagaimana digambarkan oleh mentri Sri Mulyani di berita-berita. Sambil menunggu dan menunggu (karena saya sendiri belum gajian jadi tidak bisa ikut partisipasi menarik uang) saya jadi teringat kalau hari ini adalah hari penentuan dari langkah Timnas Garuda di pegelaran piala AFF 2016 yang sangat bergengsi di Asia Tenggara itu.


Setelah hiatus dari segala macam pertandingan internasional karena terkena sanksi FIFA, penampilan Timnas senior Indonesia ini pastinya ditunggu oleh jutaan pasang mata para supporter setianya. Namun nasib kurang baik tampaknya merundung Evan Dimas Cs diawal-awal perhelatan. Setelah dihajar Thailand 4-2 pada partai pembuka, garuda kebanggaan kita harus menunda hasrat sejenak setelah kemenangan yang sudah begitu tersaji di depan mata harus pupus karena seorang “suami muda” yang nggak tahan untuk membobol gawang si Meiga. Apa boleh bikin, Indonesia harus rela ngejogrog di urutan paling bawah klasemen dengan hanya mengoleksi 1 poin saja.  Langkah Timnas semakin sulit lagi karena partai terakhir mempertemukan Indonesia dengan Singapura yang juga punya misi wajib menang demi tiket semifinal.


Melawan Singapura bukanlah hal yang mudah, walaupun bukan sesuatu yang mustahil juga. Persis seperti Filipina, Singapura juga diperkuat oleh legiun asing yang telah dinaturalisasi. Satu dekade terakhir naturalisasi memang dirasa cukup mengangkat pamor tim-tim sepakbola Asia Tenggara. Indonesia pun tidak mau kalah dan lantas menasionalisasi Christian Gonzales dan Irfan Bachdim yang langsung mencuri perhatian penonton AFF tahun 2010 silam. Untuk Piala AFF kali ini amunisi naturalisasi tim garuda diisi oleh Stefano Lilipaly. Pemain yang pernah bermain untuk timnas Belanda U-15 ini akhirnya memilih untuk membela Indonesia sebagai tim nasional level senior.


Penantian Fano (panggilan akrab Lilpaly) yang batal bermain untuk Timnas U-23 di Sea Games 2011 karena masalah cedera akhirnya membuahkan hasil. Sebuah sepakannya menembus pertahanan penjaga gawang Singapura yang tampil apik sepanjang permainan. Sepakan kencang tersebut bukan hanya membuat Singapura harus pulang kandang lebih cepat, tapi juga menyepak segala isyu miring tentang rush money, dan tentang persoalan keharmonisan kita dalam berbangsa. Menit ke 85 pertandingan melawan Singapura tadi Lilipaly membuktikan bahwa melalui sepakbola kita semua bisa menjadi saudara (lagi). Senasib sepenanggungan, berdiri di bawah langit, memijak tanah, dan hormat kepada bendera yang sama. Indonesia. Saya mungkin adalah orang yang tidak mendukung aksi 411 kemarin, dan kamu yang membaca tulisan ini, bisa saja adalah pendukung Habib Rizik dan kawan-kawan ormasnya. Tapi saya yakin 25 November ini kita bersama berteriak, bersorak-sorai menyambut gol Stefano Lilipaly   –seorang warga negara keturunan- yang mengantarkan kaki bangsa ini untuk melangkah lebih jauh di pentas sepakbola Asia Tenggara.


Alih-alih ada rush money, tanggal 25 November malah dikenang sebagai salah satu pertandingan Timnas Garuda yang mengundang adrenaline rush bagi penikmat sepakbola tanah air. Tak ada orang berbondong-bondong menarik uang dari bank. Tidak ada kerusuhan yang tercipta akibat stabilitas ekonomi yang terganggu. Tidak satu pejabat pun yang dikudeta malam ini. Dan Coldplay  tetap tampil di Singapura, negara kecil kaya raya yang malam ini kita buat bertekuk lutut tidak berdaya.


Akhir kata, terimakasih Andik Vermansyah dan Stefano Lilipaly, kalian telah mengingatkan kami untuk tidak terlalu banyak scrolling Facebook sehingga lupa  bersenang-senang di dunia nyata.


Salam Olahraga!!






Sabtu, 20 Agustus 2016

Gloria, Arcandra dan Retorika Bernama Nasionalisme



Siapa sih Gloria Natapradja Hamel?? Siapa pula Arcandra Tahar?? Nama yang pertama menjadi buah bibir netizen (sekelompok orang yang nggak punya hobi lain selain menatap gadget dan berkomentar di dunia maya) tatkala dara berumur 16 tahun itu urung mentas pada pagelaran akbar pengibaran bendera sangsaka merah putih di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 71 kemarin. Persiapan bak latihan militer kw selama satu bulan pun harus pupus di depan mata hanya karena Gloria tersandung UU no 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan. Yes, Gloria harus gigit jari (lima-limanya kalo perlu) karena Kementrian Hukum dan HAM menyatakan bahwa Gloria memiliki paspor Perancis dan langsung dinyatakan kehilangan statusnya sebagai WNI.


Sedangkan nama yang kedua lebih bombastis lagi. Bapak yang ditunjuk oleh Prsiden Jokowi pada 27 Juli 2016 sebagai Menteri ESDM Kabinet Kerja ini harus menerima nasib buruk bahwa karirnya sebagai menteri ternyata nggak lebih panjang dari durasi pacaran anak SMP. Arcandra Tahar menjabat posisi strategis itu hanya selama 20 hari. Yes, tiga minggu kurang 24 jam. Sama degan Gloria, Pak Arcandra ini pun dinyatakan mengantongi paspor Amerika yang serta merta membuat hak-haknya sebagai WNI (termasuk menjabat sebagai menteri) harus tercabut paksa. Tak ayal jebolan Teknik Mesin ITB ini langsung memecahkan rekor sebagai menteri dengan masa jabatan terpendek. Bukan sebuah rekor yang prestis memang. Namun cukuplah buat bapak ini nambah follower di Instagram sebagai mana yang dialami Gloria Natapradja Hamel.


Baik Arcandra maupun Gloria mungkin tadinya adalah orang-orang yang lolos dari sorotan gemerlap media sosial. Keduanya lebih aktif bekerja dalam diam. Arcandra Tahar selepas menamatkan studi di ITB langsung melanjutkan pendidikannya ke negeri yang paling dibenci oleh PKS selain Israel, Amerika. Disana Bapak dua orang putri sukses menjadi konsultan beberapa perusahaan pengeboran minyak Internasional. Tidak banyak yang mengetahui jika sosok Arcandra lah yang memiliki peran dalam nego-nego Presiden Jokowi menarik kembali blok Masela agar dikuasi oleh Indonesia. Mungkin itulah yang membuat pria penggiat Islamic Family Academy di Houston ini dilantik menjadi Menteri ESDM menggantikan si musuh papa, Sudirman Said.


Kemudian Gloria kita pasti semua sudah tahu. Anak gadis (ya anggaplah dia masih gadis) berumur 16 tahun itu cuma terbagi menjadi 3 golongan. Hipster indie, Korea maniak dan remaja tanggung kampungan followernya AwKarin. Tapi Gloria ini berbeda, ia mengabdikan masa remajanya yang berprestasi sebagai salah satu anggota Paskibraka tingkat Nasional yang proses seleksinya melibatkan tes keperawanan (sesuatu yang konon mulai langka di kalangan remaja puteri). Sontak dalam waktu beberapa hari menjelang hari “kemerdekaan basa-basi” di 17 Agustus kemarin, nama mereka melejit menjadi kehebohan dunia maya. Ribuan simpati, pujian, bully, caci maki mengalir deras menghiasi lini masa gawai kita. Semua itu terjadi hanya karena persoalan kewarganegaraan, yang kemudian kita tarik lagi bersama-sama menjadi perkara nasionalisme.


Isyu kewarganegaraan dan nasionalisme ini seakan menjadi problematika yang tiada titik terangnya. Ibarat onani dengan pelumas balsam cap kampak, panas. Ya kita semua sadar bahwa Indonesia itu adalah sebuah Negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam campuran suku bangsa dan ras, dan masalah “nasionalisme” ini memang salah satu isyu “panas” yang kerap dilempar oleh pihak-pihak berkepentingan menjelang beberapa event tertentu. Sialnya, ternyata banyak orang yang terkena imbas dari “racun” itu  dan kemudian menafsir perihal rasa cinta tanah air untuk kemudian mendangkalkan maknanya seperti melihat warna  hitam dan putih. Padahal masalah nasionalisme itu sama sekali nggak berbanding lurus dengan kewarganegaraan seseorang, jauh lebih kompleks dari itu. Kamu nggak bisa bilang bahwa kamu memiliki cinta yang lebih besar kepada Indonesia hanya karena matamu belo, kulitmu coklat dan namamu Supriyanto, dibandingkan tetanggamu yang sering kamu teriakin “Cina”.


Lagipula, apa sih yang dimaksud dengan nasionalisme?? Memang kamu tahu?? Menurut KBBI, nasionalisme adalah suatu paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri. Dalam kalimat diatas terdapat sebuah kata “mencintai”. Itu pokok dari arti nasionalisme. Sedangkan cinta sendiri adalah suatu hal yang absurd. Bukan seperti beras yang bisa dihitung perkilo. Jadi, sangat tidak tepat mengukur tingkat kecintaan seorang warga negara hanya lewat selembar surat, asal muasal nenek moyang, warna kulit, dan hal-hal fisik nan retorika lainnya.


Sejarah sendiri mencatat beberapa nama yang mungkin terdengar asing di telinga kamu yang lebih suka bales-balesan komen Facebook daripada membaca. Sosok asing tersebut mengorbankan kepentingan pribadi bahkan jiwa dan raganya demi kecintaannya terhadap sebuah negara bernama Indonesia.


Yang pertama ada seorang wanita asal Skotlandia bernama Muriel Stuart Walker (mungkin sepupunya Johnie Walker).  Wanita ini sebenarnya berkarier sebagai penulis naskah film di Holywood, namun akhirnya ia harus ikut migrasi bersama suaminya menuju Bali pada tahun 1932. Di Bali Muriel diangkat anak oleh raja setempat dan mengganti namanya menjadi K’tut Tantri. Selama perang kemerdekaan berkecamuk, K’tut Tantri bergabung dengan laskar pejuang dan ikut bergerilya bersama Bung Tomo yang legendaris itu. K’tut Tantri menjadi saksi keganasan Arek Suroboyo menghadapi mesin perang Inggris dalam peristiwa 10 November yang kemudian dikenang sebagai hari Pahlawan. Ia juga menjadi penyiar “Voice of Free Indonesia” dan bahkan membuat pidato bahasa Inggris pertama untuk si Bung Besar, Soekarno. Pendengar siarannya yang mayoritas warga Eropa menjuluki K’tut Tantri “Surabaya Sue”. Sampai akhir hayatnya Muriel Stuart Walker a.k.a K’tut Tantri nggak pernah memegang paspor Indonesia. Kamu berani meragukan nasionalime-nya??


Kemudian ada pria asal Belanda bernama Jan Cornelis Princen, yang kemudian lebih terkenal dengan nama Haji Johannes Cornelis Princen. Pria yang sewaktu muda dipaksa masuk menjadi tentara KNIL ini dikenal tidak menyukai segala bentuk penindasan yang membuatnya terus memperjuangkan hak-hak asasi manusia.  Karena penindasan itu juga yang membawanya membelot dan disertir untuk bergabung bersama TNI pada saat agresi militer Belanda yang kedua. Keluar masuk hutan bergerilya bersama pasukan Divisi Siliwangi menuju Jawa Barat membuat Jan Cornelis Princen mendapat Anugerah Bintang Gerilya oleh Presiden Soekarno. Selepas perang fisik, Jan Cornelis Princen aktif dan populer di dalam dunia politik. Banyaknya ketimpangan dan kecurangan membuatnya mengundurkan diri dari parlemen sambil terus bersuara tegas kepada pemerintah. Keluar masuk penjara adalah makanan bagi Jan Cornelis Princen karena kritik tajamnya kepada pemerintahan Orde Lama maupun Orde Baru. Hingga pada tahun 1981 ia ikut mendirikan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Sepanjang hayatnya pria asli Belanda ini dikenal sebagai pejuang HAM di Indonesia. Kamu masih meragukan kadar nasionalisme-nya??


Oke, kalo dua nama diatas terdengar asing bagi kamu, mari kita membicarakan nama yang lebih familiar di telinga. Pernah mendengar nama Susi Susanti. Nama yang sangat membumi dengan prestasi selangit. Atlit bulutangkis legenda Indonesia ini lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat dengan nama asli Wang Lian Xiang. Yes, Kak Susi ini punya darah Tionghoa kental mengalir di dalam dirinya. Kalau saja ia tidak meraih emas Olimpiade Barcelona tahun 1992, mungkin orang akan mengumpat “Dasar Cina” kepadanya seandainya Susi membuka toko kelontong dan harga barangnya nggak bisa ditawar.


Namun apa boleh bikin, Allah SWT, Tuhannya umat Islam -bukan Tuhannya Susi karena dia sendiri Kristen- malah menakdirkan Susi Susanti menjadi kebanggaan negara yang sebagian warganya membenci etnis Tionghoa. Saat itu pembenci etnis Tionghoa terpaksa menjilat ludahnya sendiri kala mereka tanpa sadar ikut mengelu-elukan nama Susi Susanti sebagai pahlawan bangsa Indonesia setelah menggondol pulang medali emas pertama di Olimpiade melalui cabang bulu tangkis tunggal putri. Meski telah menjadi pahlawan olimpiade tidak lantas membuat Susi Susanti memperoleh perlakuan setara sebagai bangsa Indonesia. Saat hendak menikah dengan Alan Budikusuma -yang juga menyumbang emas olimpiade di tahun yang sama dengan Susi-, dirinya menemukan kesulitan birokrasi yang membuatnya kecewa. Susi yang lahir di Jawa Barat dan fasih berbahasa Sunda ini menghabiskan masa mudanya berlatih bulutangkis demi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dimana kurangnya nasionalime Susi Susanti??


Yang paling update, masih dari dunia bulutangkis, di Olimpiade Rio 2016 cabang olahraga unggulan Indonesia ini kembali unjuk gigi dengan memulangkan tradisi emas bulutangkis ke pangkuan ibu pertiwi. Duet maut Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil menghajar pasangan dari negara tetangga Malaysia di babak puncak. Kemenangan terasa semakin bermakna karena terjadi persis di tanggal 17 Agustus yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Pagi hari kita disajikan seremonial basa-basi setahun sekali yang terasa membosankan. Namun pada malamnya, tanggal 17 Agusutus manis ditutup dengan euphoria “nasionalisme” yang meluap-luap karena lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan sambil mengiringi bendera sangsaka merah putih naik menjadi yang tertinggi di kota Rio de Jeneiro.


Kemenangan monumental hari itu sekali lagi mengajarkan kita tentang arti “nasionalisme” yang sebenar-benarnya.  Tentang menjadi “Indonesia” secara utuh. Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Liliyana Natsir dan puluhan bahkan ratusan atlit bulutangkis keturunan Tionghoa lainnya nggak perlu mengganti nama, berpindah agama, atau bahkan operasi mata dan kulit hanya untuk membuktikan bahwa mereka adalah bagian  sah dari Indonesia yang didominasi oleh sekelompok orang dengan atribut yang berbeda.


Maka katakanlah Arcandra, Gloria, Muriel, Jan Cornelis, Susi, Alan, dan Liliyana bukan orang Indonesia asli. Sehingga nasionalisme-nya serta merta boleh diragukan. Terus apa kabar dengan kita?? Saya dan kamu?? Iya kamu. Apa yang sudah kamu berikan terhadap negara?? Berbagi postingan SARA di Facebook dan menganggap perbuatan itu pencerahan bagi masyarakat?? Menganalisa peta perpolitikan tanah air berdasarkan postingan temenmu dan menganggap itu edukasi??? Mengajak orang lain untuk menurunkan Presiden terpilih CUMA melalui twitter dan berpikir itu revolusioner??? OMONG KOSONG.


Kamu tersinggung?? Lebay ah kamu, kaya baru aja tinggal di Indonesia.



Rabu, 24 Februari 2016

Sotoy-Sotoyan Soto










Soto, siapa yang gak kenal makanan jahanam ini?? Disajikan dengan kuah hangat hasil rebusan daging sapi maupun ayam, dijamin makanan satu ini selalu masuk list makan siang pegawai kantoran seperti saya dan mungkin juga kamu. Iya betul, sepakat atau tidak soto telah mewarnai lembaran jam-jam makan siang kita semua. Taste nya yang Indonesia banget membuat soto mampu melintasi kelas strata sosial dengan gemilang. Ibarat musik, soto ini bisa diibaratkan sebagai musik pop. Mulai dari kuli dan working class yang biasa menikmati soto di warung-warung sempit pinggir terminal dengan bau pesing yang sebenarnya bisa membunuh selera makan , hingga menembus relung-relung gaul sosialita yang suka menyantap makanan khas nusantara ini di Resto berkelas kota besar seperti Jakarta. Melintasi  kelas sosial sekaligus generasi, soto tetap bertahan dan bahkan semakin garang merobek-robek dominasi fast food yang digadang-gadang menjadi solusi cepat untuk pegawai ataupun mahasiswa yang tidak punya banyak waktu untuk makan siang. Beda dengan eksekutif muda yang biasa makan siang sambil meeting haha-hihi dengan klien ataupun investor potensial, kelas pegawai menengah biasanya tidak punya cukup waktu untuk masalah "leyeh-leyeh" siang kecuali mereka punya mental baja yang siap kapan saja disemprot atasan. 


Namun begitu, ada sebagian kecil dari pegawai "berani mati" diatas yang tetap ngotot rela berlama-lama ngantri dengan risiko kena omel hanya untuk menunggu seporsi soto Surabaya yang disajikan oleh pedagang soto grobag. Di kawasan Simprug Senayan, ada satu grobag soto yang kalo orang mau makan harus nunggu orang yang lain kelar duluan. Aroma gurih kuah kaldu ayam bercampur keringat yang terus mengocor karena gerah tidak menyurutkan tekad konsumen yang rata-rata bekerja di wilayah Permata Hijau dan sekitarnya itu. The Power of Soto.


Nah, tahukah kamu kalo kebahagian kita saat mencicip kuah kuning khas soto itu semua berawal dari orang-orang etnis Tionghoa. Lho kok Tionghoa??? Ini penulisnya orang Tionghoa ya?? Pro Ahok ya?? antek Jokowi ya?? Antek aseng ya???  Adek nya Ahok ya?? Bruce Lee ya?? Lim Swi King ya??  Walah.., bukan kok. Saya Cuma orang Indonesia yang coba menghargai segala bentuk perananan nenek moyang kita dahulu terlepas dari suku dan rasnya. Coba deh sejenak  kita singkirkan sentimen ras yang dipupuk subur oleh rezim Soeharto yang coba diulang sebagai senjata kampanye oleh Timses menantunya beberapa puluh tahun kemudian. Soto ini mungkin banyak yang tidak menyadari asal muasalnya karena sudah terlanjur melekat dengan budaya lokal nusantara. Tapi jangan lupa, kata orang bule there's nothing new under the sun. Kalo kamu pikir soto itu asli hidangan Madura, Surabaya, Betawi ataupun daerah lain di Indonesia, itu sama saja kaya kamu beranggapan kalo Joy Tobing lah pemenang Indonesian Idol edisi pertama. Keliru Bung. 


Kalo mau dirunut sampe akar mungkin juga soto gak betul-betul berasal dari Tiongkok, tapi mungkin varian masakan bangsa Viking yang barbar dalam mengolah asal-asalan sisa tulang belulang manusia yang selesai mereka habisi. Lantas saat pemimpin bangsa Viking menemui Genghis Khan di perbatasan Mongolia, dibawalah soto serantang sebagai compliment atas keramah tamahan suku barbar dataran Cina tersebut. Kemudian Genghis Khan yang  kagum akan keunikan rasa kaldu manusia yang diolah dengan minyak dan garam mulai memerintahkan juru masak di wilayah kekuasaannya untuk meniru menu serupa dengan menggunakan daging sapi atau babi. Peristiwa barusan memang  terdengar sangat ganjil tapi bisa saja benar-benar terjadi di dunia yang gila ini, hanya mungkin gak bisa ditemukan literatur yang sahih atas peristiwa tersebut. Jadi mari kita bahas asal usul soto dari sumber yang bisa dipertanggungjawabkan saja, kaya wikipedia misalnya.


Menurut Dennys Lombard, soto itu adalah awalnya hidangan Tionghoa yang bernama Caudo yang dipopulerkan di Semarang sejak zaman penjajahan Belanda dahulu. Makanan dengan bahan utama kaldu daging sapi/ayam/babi ini demikian disukai hingga warga asli Indonesia pun mengkonsumsi dan menyebut hidangan tersebut dengan soto. Kok bisa jadi soto?? Ya salahkan lidah orang Indonesia yang suka males nyebut istilah yang asing buat telinganya. Kalo Malih Tong-Tong aja bisa keliru mengeja Vincent (eks club80's) menjadi Kimsen, dimana salahnya Caudo  disebut  menjadi soto oleh lidah orang Semarang?? Nah kemudian dari Semarang itulah soto alias Caudo menyebar keseluruh penjuru negeri. Kalo kamu kurang percaya sama Dennys Lombard hanya karena dia kafir, coba deh gunain sedikit ilmu analisamu. Sedikit aja, mari kita berdeduksi layaknya Sherlock Holmes  detektif  fiktif yang kafir juga itu. Terlepas dari daerah asalnya, mari coba kita urai apa saja isi dari soto itu. Untuk departemen lemak soto mempunyai isi yaitu daging ayam atau sapi, kambing, kikil dan juga jeroan. Dari seksi sayuran, biasanya soto berisi kol, tauge, tomat, dan lobak. Di wilayah karbohidrat diwakili dengan bihun, soun dan mie kuning. Kadang ada potongan kentang rebus dan perkedel juga. Pendampingnya selalu ada bawang goreng, sambal, jeruk nipis dan taburan daun bawang sebagai penambah aroma. Oh jangan lupa krupuk atau emping. Tiada lengkap hidangan nusantara tanpa kehadiran duo bangsat itu. 


Selanjutnya mari kita menganalisa, apa kesamaan isi dari semua soto yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia ini. Yup benar, penggunaan mie atau soun. Ada beberapa soto yang tidak menggunakan mie seperti soto daerah Sulawesi yang sumber karbohidrat nya diganti dengan buras atau lontong, namun pada umumnya soto menggunakan mie atau bihun sebagai sarana pengenyang perut. Hanya orang gila yang gak tahu siapa bangsa yang mempopulerkan mie pertama kali. Kalo masih gak percaya juga, mari kita pakai analisa yang lebih tajam dan dalam lagi.Ini berkaitan dengan kebiasaan makan dan kultur perut bangsa Indonesia. Ditelisik dari isian dan pendampingnya, Caudo atau soto ini diplot orang Tiongkok memang khusus untuk makanan utama. Coba kamu lihat beberapa menu soto yang meriah dan tentu saja mengenyangkan. Nah, setahu saya sih gak ada orang Tiongkok yang makan mie rebus pake nasi. Karena nasi masih satu departemen dengan mie. Sama-sama karbohidrat. Pernah gitu kamu liat di film-film kungfu ada jagoannya makan nasi pake lauk mie?? Gak ada lah, karena cuma orang Indonesia yang kelaguannya kaya begitu. Jelas sudah kalau soto a.k.a Caudo ini ciptaan orang Cina untuk hidangan makan utama, namun karena orang Indonesia lekat dengan budaya nasi, ya bagaimanapun soto bentuk dan isinya tetap saja menjadi lauk pendamping nasi.


Gimana, masih berpikir saya mempropagandakan budaya Tionghoa?? Gak usah sedih, ibu kandungnya Pak Prabowo juga campuran Manado-Cina kok. Lagipula ada juga yang menyebut soto itu perpaduan budaya nusantara dengan India ditilik dari bumbunya yang menyerupai kare. Nah daripada kamu sedih dan bermuram durja mendingan langsung aja cari warung soto terdekat dari kantormu, mumpung jam makan siang juga belum berlalu. Gak tau juga mau makan dimana?? Duh, kamu ini jangan-jangan lebih merana daripada bayi-bayi Papua yang sama sekali gak bisa nikmatin harta melimpah yang tersimpan di tanah nenek moyangnya. Nih sekalian deh saya kasih rekomendasi makan Soto Mie Bogor yang enak untuk kamu yang ngantor di seputaran Tebet. Nama tempatnya makannya sih standar kaya tukang soto pada umumnya. Soto Mie Bogor. Di daerah Tebet tukang Soto Mie ini memang over kuota. Dan kadang mereka menambah embel-embel "asli Bogor" di warung atau gerobag untuk meyakinkan sejumlah konsumen yang masih ragu akan pilihan hatinya. Tapi di Tebet Barat III, hanya selemparan sempak Hulk Hogan jaraknya dengan kantor saya, kamu bisa menemukan Soto Mie yang endeus dan porsinya lumayan bisa merusak jadwal diet yang dikasih oleh Personal Trainer bulutangkis kamu yang kekar itu.


Di warung Soto Mie Bogor ini kamu bisa mendapatkan semangkuk soto dengan isian lengkap menggunung hanya dengan mengelurkan selembar uang 20 ribuan saja. Sudah termasuk nasi dan teh tawar hangat untuk kamu yang selalu "dingin". Seperti umumnya soto mie Bogor, dalam satu mangkok kita bisa menemukan soun, mie kuning, irisan kol, tomat, daging sandung lamur dengan potongan cukup besar, dan juga risol.

                                                                        Soto Mie semangkok, plus nasi

Khusus untuk nama yang terakhir, inilah yang paling spesial dari warung yang buka pagi hingga jam sembilan malam ini. Risol disini ukurannya lumayan besar dan tingkat kerenyahannya juga pas. Kulit risol yang krenyes-krenyes berpadu dengan kuah soto yang segar bagaikan Ricky Subagja dan Rexy Mainaki di era jayanya. Saling melengkapi. Saking istimewanya kehadiran risol di warung ini, sampai-sampai si risol bisa dibeli secara terpisah dengan harga seribu rupiah saja. Jadi buat kamu penggila risol, disini kamu bebas ngamuk dan oversize risol dalam soto menjadi 10 buah misalnya. Jadi isi sotonya risol doang sama kuah. Bebas, Bung. Ini negara demokrasi, kegilaanmu selama gak kriminal dijamin haknya oleh negara.

                                                                             Check these risols out!!!

Dan khusus untuk saya yang punya lidah Minang kadung terbiasa dengan citarasa asin, soto mie disini bisa dibilang memiliki tingkat keasinan yang pas. Ada beberapa tempat makan soto dimana saya pasti menambah garam supaya enak di lidah. Tapi tidak disini. Abang soto mie seolah membaca raut muka saya yang gak doyan makanan dengan citarasa tanggung. Sepanjang sejarah makan soto, hanya ada dua atau tiga tempat saja saya gak pernah menambah garam, salah satunya soto mie Bogor Tebet Barat ini. Perfect. 


Dan walaupun soto kini telah naik pangkat menjadi hidangan yang disajikan dengan tampilan yang aduhai di resto maupun hotel, kenikmatan menyeruput kuah panas nan pedas sambil menyeka keringat di kening itu tiada tandingannya. Gak heran kalau warung soto yang sempit, pengap dan terkesan jorok malah bisa mengundang banyak pelanggan dibanding dengan gambar cantik semangkuk soto di halaman sosmed sebuah restoran. Makanya menikmati Soto Mie Tebet Barat ini sangat dianjurkan ketika cuaca mendung. Tidak peduli apa agama, suku dan ras nenek moyangmu, perpaduan udara sejuk dengan kuah soto dan pengapnya tempat makan pasti membuat kamu menjadi kalap, lupa norma sosial dan bertingkah layaknya kaum pemangsa manusia di pedalaman Afrika sana. 


Well.., suka atau tidak suka, faktanya di dalam semangkuk soto terjadi berbagai macam peristiwa dan akulturasi budaya yang saat ini kita gemar perdebatkan. Lalu, pertanyaannya adalah “kalau soto yang kita makan tiap hari buatan orang Cina, terus ngapain orang-orang sibuk demo boikot fastfood produksi Amerika???”.  Aaah, saya jadi teringat ungkapan seorang filusuf Perancis abad pertengahan, Voltaire.  Kata nya, "dihadapan semangkuk soto , semua agama adalah sama".