Tampilkan postingan dengan label Pop Kultur. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pop Kultur. Tampilkan semua postingan

Minggu, 02 Oktober 2016

Kata Siapa Aw Karin Merusak Moral Anak Bangsa??

Kata siapa Aw Karin merusak moral anak bangsa??


Iya saya tanya beneran, dari segi mana Aw Karin merusaknya??

Tunggu dulu, sebelum kita sama-sama menjawab pertanyaan diatas, perlu saya sampaikan disini bahwa saya seratus persen bukan Kariners, Sahabat Karin, Karin Holic atau apalah nama penggemarnya tersebut. Saya nggak dibayar sepeserpun untuk bikin tulisan ini. Saya juga bukan antek Yahudi yang diutus CIA untuk kolaborasi dengan remaja-remaja mental jeblok bangsa Indonesia dalam rangka mendegradasi moral para kawula muda. Saya cuma mengajak kamu, kalian semua untuk berani melihat suatu masalah dari sisi yang lain, beda dan mungkin terabaikan sebelumnya. Karena seperti yang dikatakan oleh filusuf kontemporer Nigeria, Nwankwo Kanu “Orang yang paling bodo ialah orang yang hanya punya satu sudut pandang”. Hal tersebut juga diamini oleh pakar ilmu sosial asal negeri kincir angin, Prof. Dr. Weisley Sjeneider yang berteori bahwa ketololan paripurna seringkali diakibatkan oleh pengkultusan satu sudut pandang yang menjadi dogma dalam menjalani kehidupan. Jadi sekali lagi saya menegaskan bahwa saya sungguh-sungguh netral dalam masalah fenomena media sosial yang pelir, eh pelik ini.

Seperti saya singgung diatas, saya tidak pernah berniat menjadikan kasus Aw Karin yang menjadi sorotan publik dunia maya ini menjadi sebuah tulisan. Entah saya yang kuper atau sering kehabisan paket internet, saya termasuk yang rada telat menyadari sepak terjang remaja yang dadanya nggak begitu besar itu. Dikabarkan Aw Karin sering mengunggah video asyik masyuk penuh mahligai cinta bersama si pacar (yang sekarang sudah jadi mantan), sehingga dikhawatirkan adik-adik follower dan subscriber dari Karin menjadi terinspirasi untuk ikutan berdada kecil namun seringkali tampak pongah.

Remaja putri ini juga diberitakan sering mengumpat kata-kata yang tidak pantas untuk diucapkan di dalam rumah ibadah, walaupun sebenarnya Karin melakukannya di tempat yang biasa aja sih sebenernya buat teriak-teriak “ANJING!!” sampe kerongkongannya keset. Intinya semua perilaku itu hanya sebatas berita dan video unggahan di dunia maya, secara nggak ada satupun pihak yang merasa terganggu dengan postingan Karin yang pernah mengenalnya di dunia nyata.

Sayapun akhirnya pertama kali melihat video Aw Karin beberapa hari yang lalu ketika seorang teman memperlihatkan sebuah video klip dengan konsep dan editing yang “elek blas” di situs Youtube. Dalam video itu terlihat seorang pria diju’ung masa remaja berkeluh kesah soal kemunafikan lingkungan sosial lewat musik rap. Di bagian refrain lagu, munculah sosok remaja putri yang tampak sangat Agnes Monica wannabe -lengkap dengan seragam zumba dan baju jaring- melantunkan bait demi bait keresahan jiwanya kala dijustifikasi sebagai orang tak bermoral oleh sebagian orang yang sangat mungkin tidak bermoral juga. Gadis (seandainya masih..) itu bernama Karina Novilda a.k.a Aw Karin yang femes itu.

Saya suka musik rap dan hiphop, tapi sayangnya saya nggak suka Young Lex dan juga Aw Karin. Alhasil baru satu menit video diputar saya kontan embung menonton sampai habis. Setelah itu saya benar-benar lupa akan eksistensi Karin yang konon (jangan dibalik) merusak moral anak bangsa itu. Sampai hari Sabtu siang pacar saya bertandang ke rumah. Seperti biasa kami membahas dan berbicara hal-hal intelek seperi suku bunga IHSG, Tax Amnesty dan perseteruan antara Kiswinar dan striker Juventus Mario Mandzukic. Disela-sela perbincangan tiba-tiba pacar saya menceritakan sebuah kabar dukacita. Salah seorang temannya dikabarkan telah meninggal dunia. Yang membuat bergidik adalah penyebab perempuan malang itu berpulang. Ia meninggal sehari setelah melakukan aborsi yang keempat. Empat kali melakukan aborsi, dan yang terakhir ini berakibat sangat fatal. Saya termenung. Sekilas terlintas wajah Aw Karin saat meliuk-meliuk mengikuti irama musik rap yang kurang enak. “Kalian suci..aku penuh dosa..” kira-kira begitu salah satu penggalan liriknya.

Saya langsung tersadar dan menyesali betapa rusaknya pergaulan masyarakat terutama remaja sekarang. 4 kali aborsi. 4 calon bayi harus gagal melihat bumi Indonesia yang begitu indah ini. Perkara aborsi bukan barang baru bagi saya. Tiga teman saya melakukan hal itu. Satu diantaranya melakukannya hingga tiga kali. Mengingat hal itu saya lantas bergidik ngeri. Namun tiba-tiba saya mendengar ada yang melakukan aborsi ilegal sebanyak 4 kali dan kemudian harus meregang nyawa. Ini benar-benar sudah melewati batas. Seketika kasus Aw Karin yang cuma ngomong jorok dan skip kuliah kedokteran menjadi seperti upil kering diatas tower Indosat yang sinyalnya nggak bagus-bagus amat.

Saya kemudian berpikir. Apa benar Aw Karin merusak moral anak muda?? Atau Karin hanya hadir sekedar menjadi bagian pelengkap, pemanis dari sebuah puzzle yang sangat besar namun kita semua lalai melihatnya. Kita semua mafhum jika urusan lalai memang spesialisasi bangsa besar ini. Banyak peristiwa lalai yang berujung bencana terjadi disini. Sekian juta orang dibantai dalam kurun waktu beberapa bulan saja di tahun 1965 seraya mengiringi seorang jendral korup nan murah senyum naik tahta.  Masyarakat lantas lalai berjamaah karena hanya berfokus pada para Jendral yang diceburin ke sumur di Lubang Buaya. 40 tahun kemudian, alarm peringatan Tsunami di pinggir pantai Banda Aceh rusak sejak bertahun-tahun yang lalu dan dinas terkait berkelit seribu bahasa. Mereka lalai memperbaiki alat tersebut. Alhasil 120 ribu jiwa tersapu gelombang laut, sehari setelah Natal dan hanya menyisakan kota yang porak poranda. Terbukti sudah. Lalai memang salah satu bakat alamiah bangsa ini, selain munafik tentunya.

Lantas dimana hubungannya Aw Karin dengan sikap lalai masyarakat Indonesia?? Ya itu tadi. Selain lalai dan munafik, bangsa Indonesia dianugerahi sifat “overwhelm” yang sangat akut. Jangankan tayangan perempuan oriental mengemut batang kemaluan pria yang ditayangkan ilegal di video tron Jakarta Selatan kemarin, bapak-bapak terjatuh dari motor saja bisa jadi pertunjukan menarik yang mengundang masa, menghadirkan kemacetan dan menjadi distraksi. Inilah kata kunci penghubungnya. Distraksi.

 Histeria unggahan Karin di media sosial viral dan tak terbendung hingga KPAI pun turun tangan ikut gatal memberesi moral bocah ingusan yang ukuran dadanya nggak sebesar egonya itu. Sambil disaat yang bersamaan belasan serial dan FTV norak bernuansa pembodohan bebas berkeliaran di layar kaca tanah air, ditonton oleh remaja-remaja pinggiran kota yang lugu mengarah ke dungu. Memang di Indonesia bodoh selevel lebih dimaklumi daripada berpakaian serampangan misalnya. Di negeri ini tentunya penguasa akan merasa lebih terancam dengan satu orang cerdas dengan baju terbuka dan tattoo-an (saya nggak bermaksud bilang bahwa Karin cerdas)  ketimbang  puluhan orang sopan santun, penurut, walaupun IQ-nya agak anu. Disinilah distraksi bekerja, menyamarkan, bahkan membentuk propaganda. Jika yang “rebel” dan yang santun sama-sama bisa dibodohi?? Mengapa tidak?? Ini seperti pepatah “Sekali dayung, dua tiga pulau direklamasi”. Buat Karin dan generasinya, buku adalah artefak. Youtube, instagram adalah #LifeGoals. Selamat!! Dunia kita (maya dan nyata) goncang, terusik oleh kehadiran bintang orbitan oleh pihak yang berkepentingan.


Padahal jika kita berani menelanjangi diri seraya melepas atribut religi yang kadang menjadi batas bias antara haram dan suci, mungkin kita bisa lebih jelas lagi melihat inti dari persoalan ini. Karin dan segala kelakuan dalam unggahannya bukanlah barang baru. Bukan aib baru. Bukan dosa baru. Karin bukan manusia pertama di Indonesia yang mengumpat “anjing”, “bangsyat”, “peler”, atau “ngentot” atau apalah itu namanya. Sebagian dari kita pernah mengucapkannya walaupun penuh malu dan diiringi rasa bersalah setelahnya. Sebagian lagi mungkin hanya mendengarnya sebagai ocehan tabu yang menjadi gaul ketika frasa laknat itu diplesetkan menjadi “njir”, “njrit”, “ler”, “konty”, “meki”, “ngentiaw”, “ewi”, “jembrewi” dan sebagainya.

Pun dengan perilaku Karin yang mengarah kepada kegiatan pacaran indehoy  menjurus ke adegan vulgar. Entah sejak tahun berapa praktik sex bebas, prostitusi remaja, aborsi dan kegiatan yang berkaitan dengan esek-esek gandrung di kalangan muda-mudi kota besar Indonesia. Karin bukanlah iblis yang diutus untuk mengupdate dosa lama menjadi dosa baru yang lebih mutakhir dalam ritual membangkang perintah Tuhan. Siapa sih yang nggak pernah berfantasi tentang mencium gadis atau jejaka idaman di belakang kelas sambil kemudian menggerayangi pangkal pahanya. Perkara mewujudkan fantasi itu menjadi nyata adalah hal lain. Itu soal keberanian dan mengambil keputusan. Dan walapun keputusan itu adalah hal yang salah dan buruk dipandang masyarakat, tetap saja bukan yang pertama dan terakhir. Jika nabi Adam dahulu benar mengambil keputusan untuk tidak memakan buah kuldi, tentunya Christiano Ronaldo tidak akan pernah mengangkat Euro Cup dan bahkan tidak pernah tercipta.

Satu-satunya kesalahan Aw Karin mungkin hanya karena remaja malang itu hidup dan besar di era teknologi informasi dikala kita semua masih gagap menyikapinya. Ribuan informasi nggak penting berseliweran di lini masa menguji saringan intelejensi otak kita. Teknologi memangkas banyak hal yang tak mampu kita maknai dengan arif dan bijak. Celah menganga itu yang kemudian diendus oleh hidung-hidung kapitalis kakap maupun enterpreneur bau kencur tapi oportunis yang baru masuk gelanggang. Sebagai contoh : Ketika remaja adalah usia dimana mereka mencari jati diri, pihak yang berkepentingan lantas menghadirkan dua sosok yang mewakili dua kutub yang berbeda, namun tetap satu tujuan. Monetisasi, a.k.a Ujung Ujungnya Duit yang akrab dikenal sebagai UUD.

Di sudut merah, berdiri beringas, marah dan tak terkendali. Aw Karin. Dengan terjangan bak banteng terluka Karin masuk arena mengacak-acak norma. Raungannya keras, memekakkan telinga orang tua yang memiliki remaja putri seusianya.  Karin resah dan meninju balik stigma negatif dengan karyanya yang biasa aja. Kegarangannya berakhir pada endorsement produk-produk jam gaul hippies, casing smartphone anti mainstream, dan apparel bernuansa rebel. Jutaan followernya berbondong-bondong mengikuti gaya mix n match pop culture dan pemberontakan dari Karin yang sangat kekinian. Untuk skala yang lebih massive, Karin diproyeksikan menjadi kandidat pengganti Lady Gaga, kena narkoba, dan positif HIV AIDS untuk kemudian menularkannya kepada seperempat penduduk bumi. Nasa dan CIA lantas menemukan serum dan menjual obat penawarnya di gerai Indomaret.

Di sudut biru, meriah namun sopan dan murah senyum. Ria Ricis. Tampil Syar’i dengan gamis-gamis trendy masa kini, Ricis meruntuhkan pertahanan jomblo-jomblo yang merindukan kekasih solehah. Dengan selera humornya yang ngepas, Ricis tetap semangat membagikan postingan yang dia pikir lucu dan menghibur. Tujuannya jelas, menciptakan Indonesia yang santun, relijius namun tetap kekinian. Warna-warni postingan Ricis bermuara pada iklan busana wanita, aneka riasan wajah dengan label halal dan endorsement seblak instan rasa nasi kebuli. Jutaan fans fanatiknya kemudian meniru kesantunan dan kemeriahan Ricis untuk mendapat status “istri solehah idaman laki ganteng  mirip Erdogan”. Untuk jangka panjangnya Ricis akan diduetkan dengan Tae Min dari grup K-Pop Shine menyanyikan lagu reliji “Ta’aruf di Pyongyang”. Karuan, single tersebut meng-grab dua basis fans sekaligus. Fans Ricis yang solid dan tentunya K-Popers yang militan. Jutaan abg seluruh dunia menyerbu gerai Alfamaret berburu CD terbaru Ricis feat Taemin.


Dan masih saja kita lalai melihat fakta-fakta tersebut. Kita lebih asik mengutak-utik motif personal dari Karin yang dikisahkan dahulu mempunyai segudang prestasi. Ya, katakanlah Karin adalah korban dari sebuah sistem kejam yang melatarbelakangi perilaku amoralnya. Karin adalah azab yang menampar keras pipi orang tua seluruh Indonesia. Karin muncul sebagai penanda bahwa sekarang kita telah memasuki era dimana dosa bukan waktunya lagi disimpan rapat dalam lemari sambil sesekali ditengok ketika rindu. Dosa adalah aku, dosa adalah kita.

Lalu sekarang coba jawab, bagian moral mana yang dirusak oleh Karin?? Karena kita semua berdiri diatas kerusakan yang sama. Yang diwariskan oleh nenek moyang terdahulu. Tanah dimana kita mengais nafkah adalah tanah yang malu-malu memaklumi pelacuran selama menyokong perekonomian keluarga, kota dan bahkan negara. Tanah tempat kita tinggal adalah tanah dimana seorang nenek pencuri ranting dihukum sama beratnya dengan koruptor miliaran rupiah. Seribu Karin pun tidak akan sanggup menutupi kenyataan buruk dan kerusakan moral yang ada di depan mata. Tapi sudah lah tak usah dijawab, kalian memang suci, aku penuh dosa.





Ps : Tulisan ini dibuat sebagai distraksi dari isyu gencar seputar Pilgub DKI 2017. Dikabarkan salah satu Cagub makan nasi Padang lauk cincang pake tangan kiri. Katanya sih kurang reliji, nggak sopan, tangan kiri kan tangan cebok.



Rabu, 14 September 2016

Hail Holiday! Part 1



Ini sebenernya tulisan lama bener, tapi gue upload ulang karena mau rilis part 2 nya setelah tertunda sekian tahun. Yang udah pernah baca lumayan bisa sekedar mengenang, yang belum yaaaaaa jadi bahan bacaan senggang dikala kerjaan kantor semakin kaya jembut. Hahahaha. Enjoy!!


Hail Holiday…,

The biggest day finally has come. After all moslems celebrated Idul Fitri, we go through the plan. Going   to Thousand    Island. Yes    thousand   island, I know it sounds like kind of sauce that we put on the top of our pizza hut goddamn expensive salad, but it’s not. We’re talking about almost forgotten island in the north of Jakarta.  One of them was the first soil that V.O.C took over from us. They crossed the sea and conquered the whole fucking Nation then.  The name of Thousand Island is not represents the number of it. It’s all because our elder were too lazy or too stupid to count. Once upon a time after all day debating, they were just saying, “ Okay, lets make it thousand then “. That’s the history of thousand island’s name, the place that we can count on to tan our lousy skin.  Some of us were born with black shitty skin though, but I know we still need a sunshine. A good sunshine, I mean, to cheer the mood up. Because you know.., Jakarta has been sucking our mood out, and leave nothing. We all just empty souls that need salvation, in this case, vacation, is more than enough. God just take me out of this place.

The vacation, was started at somewhere near our school. It’s all  because that’s the only possible meeting point, and also the center of area. The heart of our   beloved  Klender. Or maybe we just missed our school, missed the morning air, the ambience of going away to school again and stuff like that. And since we were stepped our feet on the first grade, we all know that the rule is.., We should have been there just in time, well in this case probably couple minutes before five., so we can take the first boat at seven and off this damned town. But God knows, it’s always hard as hell to change what we used to do for years. The habit is too hard to break.. Some friends, that include me, were coming late, not that late, but it’s still late. Wise guy says, late is late. And nothing you can’t do about it but sorry. But we’re not a bunch of wise guy who ever went the same school and stuff, We’re just can-I-say normal people. I’m sure as hell we weren’t feeling sorry about it. You know, it was just, gone with the early morning wind. The sorry feeling. was .never really existed anyway. Then we say hi like there’s nothing happened. Nobody grouches about who’s late-who’s not. We’re fine. Nothing to feel sorry about. In Jakarta, everyone is late. And even you want to say how bad you feel about the sorry thing is, it doesn’t matter anymore, because it’s too late. It’s always too late.  

And after all the late stuff, we still can find what is the brightest side of it. It doesn’t take too long to gather holiday hunger bastards like us. Within ten minutes, we’re ready to get off. So we took a not-so-called minibus that gives me a tiny space to sit in. One of my friend, rented that rotten car from a guy who have known that we’re only hopeless bastards that only want to get out. I bet he knows that we’re not gonna complaining at all, even there’s so many things we can complain about. Absolutely he didn’t give a fuck, so did I, and the rest of us.

I know,  it’s hard to stand something that you don’t like or something that you can’t imagine someday you’ll stand for it anyway. But you know, for me, that’s  fine, everything’s fine. I got my ass cramped.  My balls, I can’t even feel it anymore, it’s numb, the fucking tiny seat, that’s the reason, but it’s still fine. And I almost break my goddamn feet, because my pathetic friends were put their world class heavyweight champion bag on it. But I’m fine, as fine as my acting to pretending how fine that situation made me too fine to say to the entire fucking car that I’m FINE.

So what about my friends??? They acted everything’s fine too. I just can see in their eyes, they have something to say about. Maybe they want to talking shit about the fucking ride, about the smoke that filled the tiny car up ( some friends had no problem with smoking in wee fucking space ), or about the inconvenient situation. But they  just can’t spit it out. They just can’t. Even  if  they really  want to, and can’t stand for more. What can we say?? That’s the best we got. The cheapest ride we’ve ever paid. We swapped the price with that lousy ride. And I swear to God we were in a terrible state, because we still can laugh our ass out, like nothing happen. Well actually, something happened. Some of us were hangin’ outside the car. There’s no more room for them. But they just laugh. I know, something forced us. The fucking basic needs. You want to know what the hell is our basic needs. Cheapest price. That’s our basic needs. So humanity.

We all know that the minibus was way way over passengers and bags though, but once again, we did just fine, or maybe still pretending everything’s fine. We didn’t give a shit about it. We’ve grown up perfectly. Being a normal people in this shite town. What do you know about normal people?? Normal people who lives in Jakarta?? Sure as hell you know, but you just forgot. Normal people ( in this case, who lives in Jakarta ), never really care about those fucking safety regulations.  They don’t care about chance of getting killed due to breaking the rules. Those fucking basic rules. The rules are.., no rules!  Fuck with traffic lights, safety belts, no phone while driving, maximum capacity???? What the fuck is maximum capacity??  never heard it. We can carry a whole lot of lousy poor family in one motorcycle. We can carry every shit in this world. That’s we made for. We got through it. The unpleasant way, inconvenient situation, reckless moment, and stuff like that.

In normal world, shit always happen. But not in ours, we’re the only one who called shit. We are the shit itself. And shit never happened to any other shit. That’s why we’re always breaking every rules that ever made. We way too far from that civilized thing. We’re not goddamn western people. We’re the barbarian. We see what we can see, think what we can think, do what we  just can do, never had a sense about it. So, who’s the one  in this fucking car needs regulation anyway, when you got pure fucked up life leaving behind. No one. We just want to out of town, to the fucking island. Release our stress off. The cure sings “ I don’t care if Monday blue.. “, but I do care, because my Monday, my bloody Monday, would be  as blue as the ocean that ain’t far away. That’s why I prefer Jason Mraz and wondering the beaches we walk, with the gale blows across my fucking hair. It could turns my mood on. Makes me feel alive. I even would risk all my fucking life breaking rules by taking that fully shit loaded vehicle just to get the feeling of being a free man a little while on the island.

Talking about freeman. I was the number one freeman of the world. I can say everything I want to say, do what I want to do, go as far as I want to go, and no one can complain about. 2007, that’s the year of my remarkable journey as a freeman. I got fired from a  Singa-fucking-poor restaurant. I worked there, as a cook helper for a seven hellish months. Not my dream job, I did just for money, at the time. I earned couple cash, not that much, but I’m  feeling grateful anyway. My boss, is a cute oriental girl who is older than me and has a white skinny body.. She’s  cute as hell and sometimes makes me wondered that I could date her someday as a friend, a closest friend maybe.  So I could kiss her after a serial of hot date, take her drunk body to her apartment and take her gorgeous gown off while I’m watching her pretty-pink lips. And what I do next is making a wildest intercourse that You’ve ever imagine. And  no laws can charge me. I’m a freeman, remember. Well she’s too cute to resist anyway.  . I’ve always been thinking about it everyday. How does it feel, fucking a drunk girl. It drives me crazy. Seriously I’m pretty crazy about it.

But too bad, my dream would never come true. Poor me. Because like I said I was a freeman. Nothing can’t bond me. Including the rules. The way I live my life  is the only reason why I always break it. In the next two months, she fired me. My dream sexual-mate fired me. Fuck. Well actually she never fired me. I’m just quit. I did a real quit. Even she’s only warned me. Then she gave me that fucking letter.., the most scariest letter for every hopeless employee in this goddamn country.  What we call SP 1 in English anyway??? Yes, she gave me that, because I always coming late. And that day, I was late ( again ), for almost a hundred times I guess. I came over, in my very cool and calm state, like nothing happened. No guilty feelings. No fear at all. All I did was took a look around, everyone was busy as hell as usual. I slowly walked my lazy feet while I’m feeling like I’m the only one sane human being there.

I looked slightly to my left, my work-mate, he fried something, and the others were busy to shouted out loud, looking for a fool costumer. They always shout it loud, that welcoming words. And the place next to my restaurant is a furniture store that especially selling bed and something. I never heard a  single sound there. Them girls were  always whispering and put a big fucking world-wide fake smile instead of shouting. That kills me. The point of my story is, I was late, and no one cares. Well, if they really is, they shouldn’t have to. None of their  fucking business anyway. Just don’t be such a nosey. In case someday they’re coming late, well I’m not the person who’s trying to mind their own business. I’m not telling anyone. I don’t even tell my boss. My cute boss. I’m not gonna licking her ass. Late is a common thing. Just let it be. It doesn’t kill you. Right??? And that day was peacefully passed, until my boss, my cute boss suddenly gave me a phone call. She asked me to meet her in the office. She told that somebody is always reporting my attitude in a work time. Every single details. She wasn’t mention any name at all. But I swear it, I know who’s the bastard.

A guy named Vicky. Older than me, ass-licking type, nosey jerk, and pure thief rats. He’s a world-class PHONEY fucker I’ve ever known. He’s always acting like he own the whole fucking restaurant. He pointed himself as a right hand of the owner. And when the boss come over, he ‘s always goes along with them, showing how hard we work our ass out, telling lies about sales, and pretending that everyone there is giving him so much respect as a leader and all. No Shit, he’s the only possible bastard that gave the report. And I’m gonna stab him with a meatballs fork. Sure I will, he pissed me off, right on my face. I even caught him once, stealing goods, and sell ‘em. . But I don’t care, I’m just walking through and put a fake smile on. That’s the way we live our life in harmony. Never minding someone else’s business. But since the first day I met him, I just can look from his eyes and smile, this guy is a phoney. He can’t hide it from me. I read gesture. And from what I had been read, I knew that he’s kind of person that could ruin that. The fucking harmony. I hate him then.

The next day, I came late again and didn’t give a fuck about the warned that my boss gave me. I never stepped a foot on the office. I texted her with a couple lousiest words that crossed my mind. I even said that her golden boy, Vicky is a fucking thief. My boss seemed shock, but I don’t care. On the restaurant, my friends were waiting with their worried faces. I slammed the fucking door, yelled, and kicked the trash bin. He’s not there. And if he is, I’m ready to land my fist right on his goddamn face. For the final act, I spit the foods. Eat my saliva you fucker.

Couple of days later, my friend, the only one who treats me like a human there, texted me. He said that I can take my latest paycheck. Nice. I’m not a fucking slave. I took it then. And what I’ve heard from the people there, my boss wants me get back to work, if I still really want to. But I’m officially quit. A freeman never licked his own spit. That’s what I am, a freeman.

Okay, back to the topic. Holiday. At first, it’s just because me and couple friends had reached to the  nearest island, Untung Jawa, which was its beach succeeded got our dick wet all the way home. Then, a mate by the name Hendra suddenly had the idea. He said “ why don’t we try another island ???“        We don’t even think              what is  going on there,       but we just say “ Yes why not?? “. Plus…, Heri ( one of my mate also ), made a good fucking story. He landed his ass on those beaches first, long time before we do. You know ??? I’m the boy with eagerness , and I just can’t hide it.. Yes if you know me, I’m sort of that type. That’s why he got me, with all those stories. Heri was a good storyteller at the time, and I’m a pretty fucking good listener if I wanted to, in my case, I was so eager and wanted to go to the beach so bad.
He mixed the story very well, reality and fantasy that blew my mind.., I’m fucking serious now,.it was.., really was.

The point is…he got me..He said about snorkeling,  (what the fuck was that..I don’t even know, I only saw it on tv once ) sandy beaches with mirror-like ocean, lot of nudist girls lay down on the shore, elephant barbeque as a supper, good liquor, and to make my day, there’s a pussy that we can count on. Hahaha..the last four is totally bullshit. There’s no possible way Heri would offer me a cunt, even the cheap one. That’s not his style. He’s kind of shy and lil bit religious at once. And by the time he finished the stories, my head was full of expectations, a good one. I never snorkeling before, like I said I only saw it on tv, but it sounds very nice. I don’t know, if it’s right or wrong?? But, when I think about good beaches, my not-so-smart brain always sends a Bali pictures. And the worst part is, it lingers… like my girlfriends perfume. Since I was a kid, until now, people always makes a good-hearing stories about Bali. Pramuka island?? Never crossed my mind, not even a bit.

Well that’s the story. But I even very close to blow my chance to get there. Some stupid events nearly fuck up my  plan. In the last minute, I had a terrible fever. There were a lot of big red dots all over my body. I’m not really sure what it was. I guess it’s some sort of chickenpox or my allergy, because it’s so itchy sometimes. Very irritating. Well that disease eventually  brought me to see the doctor. I was afraid the doctor won’t let me go so. But what happen next was, she said I’m as well as hell. Nothing to worry about. She only gave me couple of medicine that I should take about three times a day. It will take out all the red itchy dots in my body. All of sudden, I felt so healthy then. Never that healthy since I took my first sleeping pills long time ago.

 I know it’s not the medicine, it’s the doctor’s word. You know, sometimes you just believe in person that you never known them well, just because they much more educated than you. Well, if the doctor says, I got a H.I.V virus on my body, I still believe in them anyway. Doctor is more like God to us. Doctor has a power to cure people or set them in the state of being helpless. And no one could ever dare to ask. We can’t ask God can we?? Well we can’t ask the doctor neither. Overall, I had a strong will to heal and ready to carry on my vacation plan. I can even tell you, nothing can stop me. Not my mom, not the disease, and not even horrible disaster like tsunami or something.

It was 7 when we got to Muara Angke. The sun was right above our head. It was hot as hell there.  Way Too hot for 7 am in October. The place was total fucked. Imagine when you mix tomato ketchup, expired yogurt, add a little bit of a fat man sweat on the top of it, and you drink it then. Tasted fucked, right??   I don’t know if you guys have ever been there before, because that’s my second or third times and I still can feel the weird all around me..I mean, the  place was  just like a sad song, with nothing to say, about the life that turned so wrong. Not very far from there, there are so many fancy people living in their fucking fancy houses, riding their fucking fancy sophisticated sport car, while they’re answering phone calls with their smart-fucking expensive-phone.

Well do they know about how fucked Muara Angke is??? Yes, they do. But do they care?? Fuck they don’t. You can see many people there work their life out. Do whatever they can do. Guess, that’s not the proper way to feed their families and all. But they just did it. No questions. They never dare to ask the doctor right?? Well, most of them never ask god neither, I bet. Some faking motivator is always saying about hard work and all. About how close we are from those fucking successful life when we work our ass out. But look at them, people there look so exhausted and I can see from their eyes that they were lose,  long-long time ago. Life forced them. No matter how hard they work their ass out. Their life had been set by capitalism hands. They would never leap that fucking social classes, not even crossed their dream. And  I’m little bit of scared to stare at them straight. I saw the eyes of no options there. Many of them.

And for sure,  suddenly we stole their attention. A bunch of town kids with bags and full of desire on their faces. Yeah we just arrived and made a scene. Lots of people there stared at us. They might think “ what the fuck are you doing here?? “,  or they just envy of our town-look life, or maybe they just don’t care at all. I was just not trying to look very happy or something, because I don’t think most people here like an overwhelming celebration about holiday in their work time. Their fucking endless work time. Muara Angke is the center of fresh fish market in Jakarta. So, don’t ever ask the smell. I’m sort of person that can’t stand fishy smell. I can tell you, it kills me.  I can’t eat fish because of the smell. And Muara Angke is the heaven of fish if you know that. Fish are everywhere. I even saw one right on the road. Dead. And it’s rotten as hell. In a couple minutes, I hold my mouth not to puke. Because it will raise more scene I know. And I don’t want to, I swear it, I don’t want to.

TO BE CONTINUE….



Sabtu, 20 Agustus 2016

Gloria, Arcandra dan Retorika Bernama Nasionalisme



Siapa sih Gloria Natapradja Hamel?? Siapa pula Arcandra Tahar?? Nama yang pertama menjadi buah bibir netizen (sekelompok orang yang nggak punya hobi lain selain menatap gadget dan berkomentar di dunia maya) tatkala dara berumur 16 tahun itu urung mentas pada pagelaran akbar pengibaran bendera sangsaka merah putih di hari kemerdekaan Indonesia yang ke 71 kemarin. Persiapan bak latihan militer kw selama satu bulan pun harus pupus di depan mata hanya karena Gloria tersandung UU no 12 tahun 2006 tentang kewarganegaraan. Yes, Gloria harus gigit jari (lima-limanya kalo perlu) karena Kementrian Hukum dan HAM menyatakan bahwa Gloria memiliki paspor Perancis dan langsung dinyatakan kehilangan statusnya sebagai WNI.


Sedangkan nama yang kedua lebih bombastis lagi. Bapak yang ditunjuk oleh Prsiden Jokowi pada 27 Juli 2016 sebagai Menteri ESDM Kabinet Kerja ini harus menerima nasib buruk bahwa karirnya sebagai menteri ternyata nggak lebih panjang dari durasi pacaran anak SMP. Arcandra Tahar menjabat posisi strategis itu hanya selama 20 hari. Yes, tiga minggu kurang 24 jam. Sama degan Gloria, Pak Arcandra ini pun dinyatakan mengantongi paspor Amerika yang serta merta membuat hak-haknya sebagai WNI (termasuk menjabat sebagai menteri) harus tercabut paksa. Tak ayal jebolan Teknik Mesin ITB ini langsung memecahkan rekor sebagai menteri dengan masa jabatan terpendek. Bukan sebuah rekor yang prestis memang. Namun cukuplah buat bapak ini nambah follower di Instagram sebagai mana yang dialami Gloria Natapradja Hamel.


Baik Arcandra maupun Gloria mungkin tadinya adalah orang-orang yang lolos dari sorotan gemerlap media sosial. Keduanya lebih aktif bekerja dalam diam. Arcandra Tahar selepas menamatkan studi di ITB langsung melanjutkan pendidikannya ke negeri yang paling dibenci oleh PKS selain Israel, Amerika. Disana Bapak dua orang putri sukses menjadi konsultan beberapa perusahaan pengeboran minyak Internasional. Tidak banyak yang mengetahui jika sosok Arcandra lah yang memiliki peran dalam nego-nego Presiden Jokowi menarik kembali blok Masela agar dikuasi oleh Indonesia. Mungkin itulah yang membuat pria penggiat Islamic Family Academy di Houston ini dilantik menjadi Menteri ESDM menggantikan si musuh papa, Sudirman Said.


Kemudian Gloria kita pasti semua sudah tahu. Anak gadis (ya anggaplah dia masih gadis) berumur 16 tahun itu cuma terbagi menjadi 3 golongan. Hipster indie, Korea maniak dan remaja tanggung kampungan followernya AwKarin. Tapi Gloria ini berbeda, ia mengabdikan masa remajanya yang berprestasi sebagai salah satu anggota Paskibraka tingkat Nasional yang proses seleksinya melibatkan tes keperawanan (sesuatu yang konon mulai langka di kalangan remaja puteri). Sontak dalam waktu beberapa hari menjelang hari “kemerdekaan basa-basi” di 17 Agustus kemarin, nama mereka melejit menjadi kehebohan dunia maya. Ribuan simpati, pujian, bully, caci maki mengalir deras menghiasi lini masa gawai kita. Semua itu terjadi hanya karena persoalan kewarganegaraan, yang kemudian kita tarik lagi bersama-sama menjadi perkara nasionalisme.


Isyu kewarganegaraan dan nasionalisme ini seakan menjadi problematika yang tiada titik terangnya. Ibarat onani dengan pelumas balsam cap kampak, panas. Ya kita semua sadar bahwa Indonesia itu adalah sebuah Negara kepulauan yang terdiri dari berbagai macam campuran suku bangsa dan ras, dan masalah “nasionalisme” ini memang salah satu isyu “panas” yang kerap dilempar oleh pihak-pihak berkepentingan menjelang beberapa event tertentu. Sialnya, ternyata banyak orang yang terkena imbas dari “racun” itu  dan kemudian menafsir perihal rasa cinta tanah air untuk kemudian mendangkalkan maknanya seperti melihat warna  hitam dan putih. Padahal masalah nasionalisme itu sama sekali nggak berbanding lurus dengan kewarganegaraan seseorang, jauh lebih kompleks dari itu. Kamu nggak bisa bilang bahwa kamu memiliki cinta yang lebih besar kepada Indonesia hanya karena matamu belo, kulitmu coklat dan namamu Supriyanto, dibandingkan tetanggamu yang sering kamu teriakin “Cina”.


Lagipula, apa sih yang dimaksud dengan nasionalisme?? Memang kamu tahu?? Menurut KBBI, nasionalisme adalah suatu paham (ajaran) untuk mencintai bangsa dan Negara sendiri. Dalam kalimat diatas terdapat sebuah kata “mencintai”. Itu pokok dari arti nasionalisme. Sedangkan cinta sendiri adalah suatu hal yang absurd. Bukan seperti beras yang bisa dihitung perkilo. Jadi, sangat tidak tepat mengukur tingkat kecintaan seorang warga negara hanya lewat selembar surat, asal muasal nenek moyang, warna kulit, dan hal-hal fisik nan retorika lainnya.


Sejarah sendiri mencatat beberapa nama yang mungkin terdengar asing di telinga kamu yang lebih suka bales-balesan komen Facebook daripada membaca. Sosok asing tersebut mengorbankan kepentingan pribadi bahkan jiwa dan raganya demi kecintaannya terhadap sebuah negara bernama Indonesia.


Yang pertama ada seorang wanita asal Skotlandia bernama Muriel Stuart Walker (mungkin sepupunya Johnie Walker).  Wanita ini sebenarnya berkarier sebagai penulis naskah film di Holywood, namun akhirnya ia harus ikut migrasi bersama suaminya menuju Bali pada tahun 1932. Di Bali Muriel diangkat anak oleh raja setempat dan mengganti namanya menjadi K’tut Tantri. Selama perang kemerdekaan berkecamuk, K’tut Tantri bergabung dengan laskar pejuang dan ikut bergerilya bersama Bung Tomo yang legendaris itu. K’tut Tantri menjadi saksi keganasan Arek Suroboyo menghadapi mesin perang Inggris dalam peristiwa 10 November yang kemudian dikenang sebagai hari Pahlawan. Ia juga menjadi penyiar “Voice of Free Indonesia” dan bahkan membuat pidato bahasa Inggris pertama untuk si Bung Besar, Soekarno. Pendengar siarannya yang mayoritas warga Eropa menjuluki K’tut Tantri “Surabaya Sue”. Sampai akhir hayatnya Muriel Stuart Walker a.k.a K’tut Tantri nggak pernah memegang paspor Indonesia. Kamu berani meragukan nasionalime-nya??


Kemudian ada pria asal Belanda bernama Jan Cornelis Princen, yang kemudian lebih terkenal dengan nama Haji Johannes Cornelis Princen. Pria yang sewaktu muda dipaksa masuk menjadi tentara KNIL ini dikenal tidak menyukai segala bentuk penindasan yang membuatnya terus memperjuangkan hak-hak asasi manusia.  Karena penindasan itu juga yang membawanya membelot dan disertir untuk bergabung bersama TNI pada saat agresi militer Belanda yang kedua. Keluar masuk hutan bergerilya bersama pasukan Divisi Siliwangi menuju Jawa Barat membuat Jan Cornelis Princen mendapat Anugerah Bintang Gerilya oleh Presiden Soekarno. Selepas perang fisik, Jan Cornelis Princen aktif dan populer di dalam dunia politik. Banyaknya ketimpangan dan kecurangan membuatnya mengundurkan diri dari parlemen sambil terus bersuara tegas kepada pemerintah. Keluar masuk penjara adalah makanan bagi Jan Cornelis Princen karena kritik tajamnya kepada pemerintahan Orde Lama maupun Orde Baru. Hingga pada tahun 1981 ia ikut mendirikan YLBHI (Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia). Sepanjang hayatnya pria asli Belanda ini dikenal sebagai pejuang HAM di Indonesia. Kamu masih meragukan kadar nasionalisme-nya??


Oke, kalo dua nama diatas terdengar asing bagi kamu, mari kita membicarakan nama yang lebih familiar di telinga. Pernah mendengar nama Susi Susanti. Nama yang sangat membumi dengan prestasi selangit. Atlit bulutangkis legenda Indonesia ini lahir di Tasikmalaya, Jawa Barat dengan nama asli Wang Lian Xiang. Yes, Kak Susi ini punya darah Tionghoa kental mengalir di dalam dirinya. Kalau saja ia tidak meraih emas Olimpiade Barcelona tahun 1992, mungkin orang akan mengumpat “Dasar Cina” kepadanya seandainya Susi membuka toko kelontong dan harga barangnya nggak bisa ditawar.


Namun apa boleh bikin, Allah SWT, Tuhannya umat Islam -bukan Tuhannya Susi karena dia sendiri Kristen- malah menakdirkan Susi Susanti menjadi kebanggaan negara yang sebagian warganya membenci etnis Tionghoa. Saat itu pembenci etnis Tionghoa terpaksa menjilat ludahnya sendiri kala mereka tanpa sadar ikut mengelu-elukan nama Susi Susanti sebagai pahlawan bangsa Indonesia setelah menggondol pulang medali emas pertama di Olimpiade melalui cabang bulu tangkis tunggal putri. Meski telah menjadi pahlawan olimpiade tidak lantas membuat Susi Susanti memperoleh perlakuan setara sebagai bangsa Indonesia. Saat hendak menikah dengan Alan Budikusuma -yang juga menyumbang emas olimpiade di tahun yang sama dengan Susi-, dirinya menemukan kesulitan birokrasi yang membuatnya kecewa. Susi yang lahir di Jawa Barat dan fasih berbahasa Sunda ini menghabiskan masa mudanya berlatih bulutangkis demi mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional. Dimana kurangnya nasionalime Susi Susanti??


Yang paling update, masih dari dunia bulutangkis, di Olimpiade Rio 2016 cabang olahraga unggulan Indonesia ini kembali unjuk gigi dengan memulangkan tradisi emas bulutangkis ke pangkuan ibu pertiwi. Duet maut Tontowi Ahmad dan Liliyana Natsir berhasil menghajar pasangan dari negara tetangga Malaysia di babak puncak. Kemenangan terasa semakin bermakna karena terjadi persis di tanggal 17 Agustus yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Pagi hari kita disajikan seremonial basa-basi setahun sekali yang terasa membosankan. Namun pada malamnya, tanggal 17 Agusutus manis ditutup dengan euphoria “nasionalisme” yang meluap-luap karena lagu kebangsaan Indonesia Raya dikumandangkan sambil mengiringi bendera sangsaka merah putih naik menjadi yang tertinggi di kota Rio de Jeneiro.


Kemenangan monumental hari itu sekali lagi mengajarkan kita tentang arti “nasionalisme” yang sebenar-benarnya.  Tentang menjadi “Indonesia” secara utuh. Susi Susanti, Alan Budi Kusuma, Liliyana Natsir dan puluhan bahkan ratusan atlit bulutangkis keturunan Tionghoa lainnya nggak perlu mengganti nama, berpindah agama, atau bahkan operasi mata dan kulit hanya untuk membuktikan bahwa mereka adalah bagian  sah dari Indonesia yang didominasi oleh sekelompok orang dengan atribut yang berbeda.


Maka katakanlah Arcandra, Gloria, Muriel, Jan Cornelis, Susi, Alan, dan Liliyana bukan orang Indonesia asli. Sehingga nasionalisme-nya serta merta boleh diragukan. Terus apa kabar dengan kita?? Saya dan kamu?? Iya kamu. Apa yang sudah kamu berikan terhadap negara?? Berbagi postingan SARA di Facebook dan menganggap perbuatan itu pencerahan bagi masyarakat?? Menganalisa peta perpolitikan tanah air berdasarkan postingan temenmu dan menganggap itu edukasi??? Mengajak orang lain untuk menurunkan Presiden terpilih CUMA melalui twitter dan berpikir itu revolusioner??? OMONG KOSONG.


Kamu tersinggung?? Lebay ah kamu, kaya baru aja tinggal di Indonesia.